Senin, 07 Mei 2012

ALIRAN-ALIRAN TASAWUF DAN SUMBER-SUMBERNYA

ALIRAN-ALIRAN TASAWUF DAN SUMBER-SUMBERNYA 1. Pendahuluan Pada masa nabi dan khulafa’ur rasyidin r.a , sebutan atau istilah tasawuf tidak pernah dikenal . Para pengikut nabi SAW diberi panggilan shahabat dan pada masa berikutnya , yaitu pada masa shahabat orang-orang muslim yang tidak berjumpa dengan beliau disebut dengan tabi’in dan seterusnya disebut tabi’it-tabi’in. Istilah tasawuf baru dipakai pada pertengahan abad II Hijriah , dan pertama kali oleh Abu Hasyim Al-Kufy [W 250 H] dengan meletakkan as-sufi dibelakang namanya, meskipun sebelum itu ada ahli yang mendahuluinya dalam zuhud , wara’, tawakal, dan dalam mahabbah . Secara etimologis, para ahli berselisih tentang asal kata tasawuf . Sebagian mengatakan berasal dari ’’Shuffah’’ artinya emper masjid nabawi yang didiami oleh sebagian shahabat anshar . Ada pula yang mengatakan berasal dari ’’ shaf ‘’ , artinya barisan . Seterusnya ada yang mengatakan berasal dari ‘’shafa’’ , artinya bersih tua jernih dan masih ada lagi yang mengatakan b erasal dari kata ‘’shufanah ‘’ , sebutan nama kayu yang bertahan tumbuh dari Padang pasir terakhir ada yang mengatakan berasal dari bahasa yunani ‘’theosofi’’, artinya ilmu ketuhanan. Secara keseluruhan ilmu tasawuf bisa dikelompokkan menjadi dua: tasawuf ilmi atau nadhari, yaitu tasawuf yang bersifat teoritis. Tasawuf yang tercakup dalam bagian ini adalah sejarah lahir tasawuf dan perkembangannya, sehingga menjelma ilmu yang berdiri sendiri. Termasuk di dalamnya adalah teori-teori tasawuf menurut berbagai tokoh tasawuf dan tokoh luar tasawufyang berwujud ungkapan sistematis dan filosofis. Bagian kedua ialah tasawuf amali atau tathbiqi yaitu tasawuf terapan yakni ajaran tasawuf yang praktis. Tidak hanya sekedar teori belaka, tetapi menuntut adanya pengamalan dalam rangka pencapaian tujuan tasawuf. Orang yang menjalankan tasawuf ini akan mendapat keseimbangan dalam kehidupannya, antara material dan spiritual, dunia dan akhirat. Sementara ada lagi yang membagi tasawuf menjadi tiga bagian yakni : 1. Tasawuf akhlaki 2. Tasawuf amali 3. Tasawuf falsafi . 1. Rumusan Masalah Seperti yang telah kita ketahui dari keterangan yang tertera di dalam pendahuluan, bahwa tasawuf terbagi menjadi tiga bagian, yakni: tasawuf akhlaki, tasawuf amali, tasawuf falsafi, maka muncul pertanyaan sebagai berikut: 1.Apa pengertian dari tasawuf amali, tasawuf akhlaki, dan juga tasawuf falsafi? 2. Apa sumber ketiga bagian tasawuf itu? 3. Pembahasan Tasawuf Amali Tasawuf Amali, yaitu tasawuf yang membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pengertian ini, Tasawuf Amali berkonotasikan tarekat. Tarekat dibedakan antara kemampuan sufi yang satu dari pada yang lain, ada orang yang dianggap mampu dan tahu cara mendekatkan diri kepada Allah, dan ada orang yang memerlukan bantuan orang lain yang dianggap memiliki otoritas dalam masalah itu. Dalam perkembangan selanjutnya, para pencari dan pengikut semakin banyak dan terbentuklah semacam komunitas sosial yang sepaham, dan dari sini muncullah strata-strata berdasarkan pengetahuan serta amalan yang mereka lakukan. Dari sini maka muncullah istilah Murid, Mursyid, wali, dan sebagainya. Dalam Tasawuf Amali yang berkonotasikan Tarekat mempunyai aturan, prinsip, dan sistem khusus. Semua hanya merupakan jalan yang harus ditempuh seorang sufi dalam mencapai tujuan berada sedekat mungkin dengan Tuhan, lama-kelamaan berkembang menjadi organisasi sufi yang melegalisir kegiatan tasawuf. Praktek amaliahnya disistematisasi sedemikian rupa sehinggamasing-masing tarekat mempunyai metode sendiri-sendiri. Pengertian ini dipertegas Oleh J. Spencer Trimingham bahwa tarekat adalah suatu metode praktis untuk menuntun (membimbing) seorang sufi secara berencana dengan jalan pikiran, perasaan, dan tindakan, terkendali terus menerus kepada suatu rangkaian Maqam untuk dapat merasakan hakikat yang sebenarnya. Dalam tarekat ada tiga unsur, yakni guru (Mursyid), murid dan ajaran.guru adalah orang yang mempunyai otoritas dan legalitas kesufian, yang berhak mengawasi muridnya dalam setiap langkah dan geraknyasesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu dia mempunyai keistimewaan khusus, seperti jiwa yang bersih. Dalam buku Tanwirul al-Qulub fi Mu’amalati ‘Allami al-Ghuyub sebagaimana yang dinukil oleh Abu Bakar Aceh bahwa seorang Mursyid, adalah orang yang telah suluk,syari’ah dan hakikatnya sesuai dengan ajaran Islam, dan telah mendapat ijazah untuk mengajarkan suluk kepada orang lain. sedang murid adalah orang yang menghendaki pengetahuan dan petunjuk dalam amal ibadahnya. Perlu dimaklumi bahwa pembagian tasawuf menjadi tiga bagian ini hanya sebatas dalam kajian akademik, ketiganya tidak bisa dipisahkan secara dikotomik, sebab dalam prakteknya ketiga-tiganya tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Misalnya dalam tasawuf, pendalaman dan pengamalan aspek batin adalah yang paling utama dengan tanpa mengabaikan aspek lahiriyah yang dimotifasikan untuk membersihkan jiwa. Kebersihan jiwa yang dimaksud adalah hasil perjuangan (mujahadah) yang tak henti-hentinya, sebagai cara perilaku perorangan yang terbaik dalam mengontrol diri pribadi. Berikut ini adalah beberapa tarekat sufi yang masih ada hingga kini, masing-masing dengan ciri-cirinya yang menonjol. Para pencari pengetahuan mungkin menjadi anggota dari satu atau beberapa tarekat, karena memang mereka sering mengikuti lebih dari seorang syekh sufi. Yang berikut ini adalah contoh dari beberapa tarekat sufi yang secara pribadi telah akrab dengan penulis. Tarekat Qadiriyah Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani (m.1166) dari Ghilan di iran, yang kemudian bermukim di Baghdad, Irak. Setelah wafatnya, tarekatnya disebarkan oleh putra-puteranya. Tarekat Qadiriyah telah menyebar ke beberapa tempat, termasuk Suriah, Turki, beberapa bagian Afrika seperti Kamerun, Kongo, Mauritania dan Tanzania, dan wilayah Kaukasus Chechnya dan Ferghana di Asia Tengah, serta di tempat-tempat lain. Tarekat Rifa’iyah Didirikan oleh Syekh Ahmad ar-Rifa’i (m.1122) di Basrah, tarekat Rifa’i telah menyebar ke Mesir, Suriah, Anatolia di Turki, Eropa timur dan wilayah Kaukasus, dan ahir-ahir ini di amerika Utara. Tarekat Syadziliyah Tarekat syadzili terealisasi di sekitar Syekh Abdul hasan asy- Syadzili dari maroko (m.1258) dan akhirnya menjadi salah satu tarekat terbesar yang mempunyai pengikut yang luar biasa banyaknya. Sekarang ini terdapat di Afrika utara, Mesir, Kenya dan Tanzania, Timur tengah, Sri lanka dan tempat-tempat lain, termasuk di Amerika barat barat dan utara. Tarekat Maulawiyah Tarekat ini berpusat disekitar Maulana Jalaluddin Rumi dari Qonya di Turki (m.1273). sekarang banyak terdapat di Anatolia di Turki dan pada akhir-akhir ini di Amerika utara. Para pengikut tarekat ini juga dikenal sebagai para darwis yang berputar-putar. Tarekat Naqsyabandiyah Tarekat ini mengambil nama dari Syekh Baha’uddin Naqsaband dari buhara (m.1390). Tarekat ini tersebar luas disekitar Asia tengah, Volga, dan Kaukasus, Cina bagian barat laut dan bagian barat daya, Indonesia, di anak benua India, Turki, Eropa dan Amerika utara. Ini adalah satu-satunya tarekat terkenal yang silsilah penyampaian ilmunya kembali melalui penguasa muslim pertama, Abu Bakar, tidak seperti tarekat-tarekat sufi terkenal lainnya yang aslnya kembali ke salah satu imam Syi’ah, dan dengan demikian melalui imam ‘Ali, sampai nabi Muhammad SAW. Tarekat Bektasyiyah Tarekat ini didirikan oleh haji Bektasyi dari Khurasan (m. 1338). Gagasan syi’ah merembes masuk dengan kuatnya pada tarekat sufi ini. Tarekat ini terbatas di Anatolia, Turki, dan yang paling berpengaruh hingga awal abad ke-20. Tarekat ini dipandang sebagai pengikut madzhab Sy’iah. Tarekat Ni’matullah Tarekat in i didirikan oleh Syekh Nurud Muhammad Ni’matullah (m. 1431) di Mahan dekat Kirman barat daya Iran. Para pengikutnya terutama terdapat di Iran dan India. Tarekat Tijaniyah Tarekat ini didirikan oleh Syekh ‘Abbas Ahmad Ibn at-Tijani, orang Berber Aljair (m. 1815). Tarekat ini telah menyebar dari Aljazair ke Selatan Sahara dan masuk ke Sudan bagian barat dan tengah, Mesir, Senegal, Afrika Barat dan Bagian utara Nigeria, dan telah diperkenalkan di Amerika Barat dan Utara. Adapun sumber dari tasawuf ini adalah dari nabi Muhammad SAW. Kebanyakan tarekat sufi ini memelihara catatan tentang silsilahnya. Yakni rantai penyampaian pengetahuan dari syekh ke syekh, yang sering tertelusuri sampai kepada salah satu imam Syi’ah dan karenanya kembali melalui Imam ‘Ali ke nabi Muhammad SAW, sebagai bukti keotentikan dan wewenangnya. Satu-satunya kekecualian adalah tarekat Naqsabandiyah yang silsilah penyampaiannya melalui Abu Bakar, khalifah pertama di Madinah, ke nabi Muhammad SAW. Tasawuf Akhlaki Pada awalnya tasawuf dipahami sebagai menekuni ibadat kepada Allah dan berpaling dari kemewahan duniawi serta berzuhud dari kelezatan, harta dan pangkat. Penekanan tasawuf pada awalnya adalah pada zuhud, ibadat, dan faqr, dalam arti bekerja keras melaksanakan perintah agama dan memelihara hukum-hukum syari’at. Menurut Imam Qusyairi, tanda-tanda seorang sufi yang benar adalah orang yang bisa menjalani hidup faqir setelah kaya, hidup hina setelah dihormati, hidup menyendiri setelah termasyhur. Pada mulanya tasawuf lebih menekankan pada pencapaian tujuan praktis, yaitu menyelamatkan jiwa dari siksa akhirat, tetapi para sufi, bekerja keras melawan dorongan buruk “nafsu ammarah” dan menyiapkan infra struktur psikologis agar mudah melakukan pekerjaan penyucian jiwa dengan melepaskan diri dari ikatan perbuatan fisik serta melupakan dorongan- dorongannya dengan berakhlak. Dengan demikian maka seorang sufi mudah untuk melampui tangga-tangga mi’raj spiritual sampai ke tingkat ekstase atau fana’. Pangkal pokok dari madzhab akhlaq ini adalah pengalaman spiritual para sufi, yakni pengalaman yang membawa implikasi kesucian akhlaq, yang diakui oleh masyarakat sepanjang zaman dan tempat. Tdak keliru jika dikatakan bahwa filsafat akhlaq di dalam Islam tumbuh dalam naungan tasawuf, dan terbentuk melalui usaha para sufi yang menempuh kehidupan praktis kesufian, yang kemudian menjadi contoh utama akhlaq yang tertinggi. Dalam prespektif akhlaq, seorang sufi juga menempuh jalan yang pada prinsipnya mengutamakan Allah dari segala perhatian yang datangnya dari hawa nafsu, membersihkan dari semua hawa nafsu, membersihkan diri dari semua sifat buruk, cermat berinstropeksi (Muhasabah) dan hal-hal lain yang menjadi halangan dalam hubungan dengan Tuhan. Imam Qusyairi berkata: orang yang telah meninggalkan perbuatan tercela dengan berpegang kepada Syari’at, berarti ia telah mencapai tingkat fana’ dari syahwatnya. Jika syahwatnya telah fana’ maka jejaknya ada dalam niat dan keikhlasannya dalam beribadat. Barang siapa yang hatinya telah berzuhud dari dunia maka ia telah mencapai tingkat fana’dalam hal keinginan. Barang siapa telah fana’ dari keinginan, maka jejaknya nampak pada kejujuran taubatnya. Barang siapa bisa mengobati akhlaqnya, berarti telah fana’ dari sifat dengki, iri, kikir, murka, sombong, dan keburukan lainnya. Orang yang telah mencapai tingkat ini disebut telah fana’ dari keburukan akhlaq dan jejaknya nampak dari sifatnya yang pemurah dan jujur. Esensi filsafat akhlaq terletak pada bagaimana menekan dorongan hewani pada sifat kebasyariyahan manusia dan membimbing insting serta motif dengan akal. Tasawuf melampui batasan ini yaitu dengan mengendalikan dan mengatur konflik batin yang datang dari sisi indrawi di satu pihak dan sisi spiritual di pihak lain. Psikologi modern juga mengakui bahwa jiwa manusia itu merupakan akumulasi dari dimensi kemanusiaan dan dimensi kehewanan. Kesehatan mental menurut psikologi tergantung kepada kemampuannya tetap memberi ruang kepada dimensi kehewanan tetapi dalam kendali dimensi kemanusiaan, yakni dibimbing oleh akal, bukan dengan mematikan salah satunya. Akhlaq bukanlah perilaku, tetapi keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah dan spontanb tanpa berfikir untung rugi. Orang yang berakhlaq mulia pastilah mulia pula perbuatannya, tetapi tidak semua perbuatan baik dikerjakan oleh orang yang berakhlaq baik.penipu terkadang melakukan perbuatan baik, ramah dan menolong orang sebagai bagian rencana penipuan. Agama mengajarkan pada manusia untuk bergaul secara indah dengan yang lain, vertikal dan horizontal. Kepada Tuhan, manusia diajarkan untuk tahu diri sebagai makhluk ciptaannya, oleh karena itu akhlak manusia kepada Tuhan antara lain syukur, tawakal, beribadah. Kepada sesama manusia diajarkan untuk saling mengapresiasi, yang muda hormat kepada yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Kepada alam, manusia diajarkan untuk mengelola dan memanfaatkan secara wajar, tidak merusaknya, kepada diri sendiri manusia diajarkan untuk sabar dan jujur. Misi utama Rasulullah antara lain adalah untuk membangun manusia dengan akhlak mulia. Teladan utama akhlak adalah diri Rasulullah sendiri.ketika aisyah ditanya tentang bagaimana akhlak rasulullah , beliau menjawab bahwa akhlak rasul adalah al-Qur’an (kana khuluquhu al-Qur’an). Nabi sendiri menyuruh umatnya untuk meniru akhlak Allah (takhallaquIbiakhlaqillah). Sebagaimana hal tersebut, para sufi berakhlak dengan bersumber pada al-Qur’an disebutkan asma ar-Rahman, ar-Rahim, makna dari asma tersebut adalah bahwa tuhan maha pengasih dan penyayang kepada segenap makhluknya. Rahmat Tuhan mengalahkan murkanya. Dan cinta sufi model Rabi’ah al-Adawiyah dapat dijadikan rujukan. Rabi’ah yang jatuh cinta kepada Tuhan tidak sempat membenci Tuhan, karena di dalam hatinya tidak ada ruang untuk kebencian. Allah al-Malik, jika Allah adalah penguasa alam semesta, maka manusia yang berakhlak dengan sifat ini adalah orang yang bisa menjadi raja dan penguasaatas dirinya sendiri. Kata Nabi, ukuran orang kuat itu bukan dalam hal berkelahi tetapi dalam hal kemampuannya mengendalikan dirinya terutama ketika sedang marah. Dan di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah bersifat al-Quddus (yang suci). Dari sifat ini manusia dianjurkan untuk menjaga kesucian lahir batin, suci dari najis, dari pikiran buruk dan dari niat yang buruk. Kesucian batin itu terbangun melalui berfikir konstruktif dan positif serta menjauhkan diri dari berbuat pamrih selain Allah atau ikhlas. Berfikir positif akan menghindarkan diri dari terjebak pada masalah-masalah yang tidak jelas, gosip dan sebangsanya. Sedangkan keikhlasan akan memberikan ketahanan ketika dikritik dan dihujat oleh orang lain. Peri kehidupan Nabi Muhammad SAW, juga merupakan benih-benih tasawuf , yaitu pribadi Nabi SAW, yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona oleh kemewahan dunia. Dalam salah satu doanya Ia mohon “wahai Allah, hidupkan Aku dalam kemiskinandan matikanlah aku selaku orang miskin” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim). Pada suatu waktu nabi datang kerumah istrinya, Aisyah, ternyata rumahnya tidak ada makanan. Keadaan seperti itu beliau terima dengan sabar lalu beliau menahan laparnya dengan berpuasa (H.R.Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan an-Nasa’i). Kehidupan para sahabat Nabi SAW dijadikan acuan para sufi, dikarenakan para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW, sehingga perbuatan danucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi. Tekun dalam beribadah dan sederhana dalam hidupnya, justru cenderung kekurangan sebab semua harta yang dimilikinya diserahkan untuk perjuangan Islam. Tasawuf Falsafi Tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi intuitif dan visi rasional. Terminologi filosofis yang digunakan berasal dari beberapa macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya, namun orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang. Walaupun demikian Tasawuf Filosofis tidak bisa dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq) dan tidak bisa pula dikategorikan pada tasawuf (yang murni) karena sering diungkapkan dengan bahasa filsafat. Dalam upaya mengungkapkan pengalaman rohaninya, para sufi falsafi sering menggunakan unkapa-ungkapan yang samar-samar, yang dikenal dengan syathahat, yaitu sutu ungkapan yang sulit dipahami, yang sering kali mengakibatkan kesalah fahaman pihak luar, dan menimbulkan tragedi. Tokoh-tokohnya ialah Abu Yazid al-Bustami, al-Hallaj, Ibn ‘Arabi, dan sebagainya. Abu Yazid al-Bustami mempunyai teori al-Ittihad, yaitu suatu tingkatan tasawuf di mana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan tuhan;suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata:”Hai Aku”. Dalam al-Ittihad identitas telah menjadi satu. Sufi yang bersangkutan dikarenakan fana’-nya telah tak mempunyai kesadaran lagi, dan berbicara dengan nama Tuhan. Di antara syathahiyyat diungkapkan oleh al-Busthami ialah: “Tiada Tuhan selain dari Aku, maka sembahlah Aku”. “Maha Suci Aku, Maha Suci Aku, Alangkah Maha Agungnya keadaan-ku”. “Tidak ada sesuatu dalam bajuku ini kecuali Allah”. Tokoh lainnya ialah al-Hallaj dengan ajaran al-Hulul, yaitu suatu paham yang mengatakn bahwa Tuhan memiliki tubuh-tubuh manusia tertentu dan mengambil tempat (hulul) di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada didalam tubuh itu dilenyapkan. Menurut al-Hallaj dalam diri manusia terdapat dua unsur, yakni unsur Nasut (kemanusiaan), dan unsur lahut (ketuhanan) karena itu persatuan Tuhan dan manusia bisa terjadi dan dengan persatuan itu mengambil bentuk hulu. Al-Hallaj juga mengungkapkan syathahiyyat sebagaimana diungkapkan oleh al-Busthami, seperti: “Aku adalah yang Haq”. Karena ungkapannya yang dianggap menyimpang dari tauhid inilah, dan tuduhan berkomplot dengan Syi’ah Qaramithah, maka dia dijebloskan kedalam putusan pengadilan fuqaha’ yng sepihak dan berkolusi dengan pemerintehan al-Muqtadir Billah. Dia dijatuhi hukum mati. Teori hullu ini dikembangkan lebih jauh oleh Ibn ‘Arabi dengan teori wahdatul wujud. Tuhan bagi sufi dipahami sebagai dzat yang Esa yang mendasari se;uruh peristiwa prinsip ini membawa konsekuensi yang ekstrim. Apabila tiada sesuatu yang mewujutkan selain Tuhan, maka seluruh alam pada dasarnya adalah satu dengan-Nya, apakah ia dipandang sebagai emanasi yang berkembang daripada-Nya, tanpa mengganggu keesaan-Nya, sebagaimana halnya bekas sinar mataharu ataukah ia berlaku seperti cermin yang dengannya sifat-sifat Allah dipancarkan. Konsep inilah yang mendasari para sufi falsafi mempunyai pandangan tersebut di atas. Dengan analisis seperti ini, maka hasil yang diperoleh oleh para sufi falsafi adalah sesuatu yang wajar dan suatu konsekuensi logis. Namun apabila didekati dengan fiqih dan Ilmu Kalam, adalah jelas hal tersebut dianggap sesuatu yang menyimpang, karena antara kholiq dan makhluq, antara ‘abid dan Ma’bud tidak bisa disatukan. 4. Simpulan Memang benar adanya bahwa aliran tasawuf terbagi menjadi tiga bagian, akan tetapi hal itu hanya sebatas kajian akademik saja. Karena dalam kenyataannya tidak bisa dipisah-pisahkan secara dikotomik. Ketika manusia merasa dekat dengan Tuhan, bahkan dalam perasaannya lebur (fana’) dengannya, di sini titik temu antara ketiga bagian tersebut, yakni tasawuf akhlaki, tasawuf amali, dan tasawuf falsafi. 5. Penutup Demikianlah kajian makalah yang dapat kami bahas dalam kesempatan kali ini, apabila ada kesalahan di dalam penulisan atau tata bahasa yang kurang berkenan maka kami sebagai manusia yang tak luput dari khilaf, meminta ma’af sebesar-besarnya. Kritik dan saran dari para pembaca tentunya sangat kami harapkan, dan kami akan menerima kritikan dari semua segi, baik dalam segi isi maupun segi penulisan dan tata bahasa. 6. Daftar Pustaka Amien Syukur dan Masharuddin, Intelektualisme Tasawuf, LEMBKOTA, Semarang, 2002 Achmad Mubarrak, Meraih Kebahagiaan dengan Bertasawuf, PARAMADINA, Jakarta,2005 Anggota IKAPI no.071/JTE/05, Fitrah Aqidah Akhlaq, Putra Nugraha, Surakarta IAIN Sumatra Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf, 1982 Muhammad Hasyim Assagaf, Belajar Mudah Tasawuf, Jakarta, LENTERA BASRITAMA,1998 M. Yaniyullah, Tasawuf Syar’i, HIKMAH, Jakarta, 2003 Mustafa Zahri, ilmu tasawuf , Bina Ilmu, Surabaya, 1995, Anggota IKAPI no.071/JTE/05, Fitrah Aqidah Akhlaq, Putra Nugraha, Surakarta, 2010 Nashr,Tiga Pemikiran Islam (Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu Araby), Bandung, Risalah 1986, hlm.05

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar